Kecelakaan Fokker F28 Garuda Indonesia 1979

Kecelakaan Fokker F28 Garuda Indonesia 1979
Sebuah pesawat Fokker F28 milik Garuda Indonesia, serupa dengan yang terlibat dalam kecelakaan tersebut.
Ringkasan kecelakaan
Tanggal11 Juli 1979 (1979-07-11)
RingkasanTabrakan pesawat dengan permukaan tanah
Lokasi
  • Gunung Sibayak, Indonesia
  • 3°15′N 98°30′E / 3.25°N 98.5°E / 3.25; 98.5
Peta
Pesawat
Jenis pesawatFokker F28 Mk-1000
Nama pesawatMamberamo
OperatorGaruda Indonesian Airways
RegistrasiPK-GVE
AsalBandar Udara Talang Betutu. Palembang, Indonesia
TujuanBandar Udara Internasional Polonia, Medan, Indonesia
Orang dalam pesawat61
Penumpang57
Awak4
Tewas61
Selamat0

Pada 11 Juli 1979, sebuah pesawat penumpang Fokker F28 milik Garuda Indonesian Airways yang melayani penerbangan domestik di Indonesia dari Bandar Udara Talang Betutu, Palembang, menuju Bandar Udara Internasional Polonia (kini Pangkalan TNI Angkatan Udara Soewondo), Medan, menabrak Gunung Sibayak pada ketinggian 5.560 ft (1.690 m) saat melakukan pendekatan untuk mendarat. Tidak ada seorang pun yang selamat dalam kecelakaan tersebut.

Latar belakang

Pesawat

Pesawat yang terlibat dalam kecelakaan ini diproduksi pada 25 Agustus 1972. Pesawat tersebut merupakan Fokker F28-1000 berusia tujuh tahun yang terdaftar dengan registrasi PK-GVE dan nomor seri 11055.[1] Sebelumnya pesawat ini menggunakan registrasi PK-GJV sebelum didaftarkan ulang sebagai PK-GVE pada Juli 1974.[2] Hingga saat kecelakaan terjadi, pesawat telah mencatat total 14.154 jam terbang dalam 14.084 siklus penerbangan.[1]

Pesawat ini diberi nama "Mamberamo", diambil dari nama Sungai Mamberamo di Papua Barat.[3] Garuda Indonesia Airways membelinya pada tahun 1972 dengan harga kurang dari 5 juta Dolar Amerika Serikat.[4] Pada Maret 1979, maskapai tersebut memiliki 30 armada Fokker F28 sebelum kehilangan satu unit akibat kecelakaan di Gunung Bromo.[4]

Awak pesawat

Terdapat empat awak di dalam penerbangan tersebut. Kapten pesawat adalah A.E. Lontoh yang memiliki sekitar 7.000 jam pengalaman terbang dan bergabung dengan Garuda Indonesian Airways pada Mei 1969. Kopilotnya adalah Moh Nurtjahjo yang berusia 26 tahun.

Dua pramugari yang bertugas adalah Netty Meriyati Pittal Uli br. Simatupang yang berusia 21 tahun dan Raflesiawati Anwar Zen yang berusia 20 tahun. Netty menyelesaikan pendidikan pramugarinya pada Desember 1978 sebelum mulai bekerja pada awal 1979, sedangkan Raflesiawati mulai bekerja di maskapai tersebut pada April 1979.

Kecelakaan

Pesawat yang beroperasi dengan nomor penerbangan yang tidak diketahui itu telah berangkat dari Palembang sekitar 80 menit sebelumnya dan telah memperoleh izin untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu 05 di Bandar Udara Medan. Pesawat diminta melaporkan ketika melintasi suar radio nonarah (NDB) berkode "ON" pada ketinggian 2.500 ft (760 m).

Pilot kemudian melaporkan bahwa pesawat mempertahankan ketinggian 9.300 ft (2.800 m) karena NDB tersebut tidak dapat diandalkan. Pengendali pendekatan lalu menginstruksikan agar ketinggian tersebut dipertahankan hingga pesawat melewati NDB. Tidak lama kemudian, pilot melaporkan bahwa pesawat berada pada ketinggian 6.000 ft (1.800 m). Dalam kondisi tersebut, pesawat kemudian menabrak Gunung Sibayak, sebuah gunung berapi dengan ketinggian 7.200 ft (2.200 m), pada ketinggian sekitar 5.560 ft (1.690 m).

Dampak dan pascakecelakaan

Kecelakaan ini diumumkan secara resmi pada hari berikutnya. Menurut Reuters, penduduk setempat berhasil mencapai lokasi jatuhnya pesawat sekitar pukul 02.00 dini hari, dan setelah itu tim pencari dikirim dari Medan. Sementara itu, menurut Agence France-Presse, sebuah pesawat pencarian dan penyelamatan (SAR) berhasil menemukan puing-puing pesawat dari udara.

Tidak ditemukan korban selamat. Tim SAR kemudian menuju lokasi kejadian untuk menyelidiki penyebab kecelakaan. Selain itu, Menteri Perhubungan Roesmin Noerjadin juga terbang ke Medan guna melakukan penyelidikan lebih lanjut.[4]

Seorang wartawan harian Analisa melaporkan bahwa warga yang menyaksikan kejadian tersebut mendengar suara ledakan sebelum melihat kobaran api di lokasi kecelakaan. Ia juga melaporkan bahwa warga yang turut membantu operasi pencarian dan penyelamatan hanya menemukan "pecahan-pecahan logam serta potongan besar bangkai pesawat". Sayap dan ekor pesawat merupakan satu-satunya bagian yang masih dapat dikenali.

Maskapai memberikan santunan sebesar Rp3,4 juta kepada keluarga setiap korban. Selain itu, bagasi penumpang juga diberikan ganti rugi sebesar Rp2.000 per kilogram.[5] Sebanyak 48 jenazah yang tidak teridentifikasi dari kecelakaan Garuda Indonesia Penerbangan 152 kemudian dimakamkan di sebuah pemakaman di luar Bandar Udara Internasional Polonia, lokasi yang sama dengan tempat dimakamkannya 57 korban kecelakaan ini.

Penyelidikan

Pada sore hari setelah kecelakaan, Roesmin Noerjadin menyatakan bahwa meskipun seorang anggota tim SAR mengaku telah menemukan perekam suara kokpit (CVR) dan perekam data penerbangan (FDR), informasi tersebut masih belum dapat dipastikan kebenarannya oleh para ahli.

Pada 14 Juli, ia menyatakan bahwa cuaca buruk dan awan rendah kemungkinan besar menjadi penyebab kecelakaan tersebut.

Referensi

  1. ^ a b Ranter, Harro. "CFIT Accident Fokker F-28 Fellowship 1000 PK-GVE, Wednesday 11 July 1979". Aviation Safety Network. Diakses tanggal 10 Juni 2026.
  2. ^ Endres, Günter G. (1979). World airline fleets (dalam bahasa Inggris). Hounslow, Middlesex: Airline Publ. ISBN 978-0-905117-52-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ "In Memoriam: Garuda F-28 Tabrak Gunung Sibayak, Semua Penumpang Tewas". Wahana News. 11 Juli 2021. Diakses tanggal 10 Juni 2026.
  4. ^ a b c "F-28 Mamberamo Tabrak Lereng Gunung, Semua Penumpang dan Awak Pesawat Tewas (Arsip Kompas)". Kompas.id. 27 Juni 2022. Diakses tanggal 10 Juni 2026.
  5. ^ "Kecelakaan Pesawat F-28 Mamberamo 11 Juli 1979, Semua Penumpang Tewas". Kompas.com. 11 Juli 2021. Diakses tanggal 10 Juni 2026.

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement